kesesuaian kehendak
Betapa sangat membingungkan kalau pendapat kita tidak diterima. Setiap orang mungkin menganggap bahwa pendapat merekalah yang benar, karena mereka yakin alasan-alasan atau tujuannya itu benar. Hal tersebut membuat keyakinan diri semakin besar, memang hal tersebut perlu untuk meningkatkan kepercayaan diri.Tetapi apakh kita akan terus merasa percaya diri ketika ada orang lain yang tidak setuju dengan kita atau bahkan menolak kita dengan kegigihan hatinya. Jangan harap kalau pendapat kita akan selalu baik di mata orang lain karena hal tadi bisa membuat kita semakin sombong dan arogan. Termasuk orang lain tadi yang menentang pendapat kita, kalau dipikir-pikir memang sulit untuk mengubah dunia dengan cara kita karena ada orang lain yang punya cara lain pula. Tersebut jika orang lain itu adalah orang yang begitu memimpin kita atau bahkan orang yang mempunyai kita, sebut saja “orangtua” kita. Ya hal itulah yang sedari tadi ingin di munculkan dalam tulisan ini. Apa sebab? Jawabannya sering terjadi perbedaan pendapat yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat antara orang tua dan anak. Coba kita telusuri seberapa “urgent” perbedaan tadi. Memang tidak bisa dihindari karena setiap orang pada dasarnya mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Apalagi seorang anak yang sedang ingin meraih masa depan.pandangan anak tersebut cenderung “perfect” dan kadang bertolak belakang dengan kemampuannya.Ada juga anak yang punya strategi tertentu dan sudah disesuaikan dengan kemampuannya tapi tetap saja orangtuannya menentang karena orangtua ingin sesuatu yang lebih. Hal-hal itulah yang membuat perbedaan sering terjadi, orangtua yang memang hak otoritasnya tinggi terhadap anaknya cenderung memaksakan kehendak mereka, apalagi mereka juga pernah muda yang bisa membuat mereka merencanakan sendiri masa depan anaknya. Untuk itulah dalam hal ini diperlukan penyamaan suara yang bisa membuat dua kubu tadi bersatu pandangan. Kembali ke sejarah kita, ketika akan memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini juga memiliki perbedaan pandangan antara tokoh muda dan tokoh tua, ketika itu tokoh muda akhirnya yang harus mencari cara yang begitu cepat dan efektif, yaitu ketika terjadi kekosongan kekuasaan penjajah Jepang, dengan cara menculik tokoh tua yang berpengaruh (Soekarno dan Hatta). Apa kita harus mengambil tindakan alternatif seperti tadi? Tentunya tidak bukan? ada beberapa saran yang mungkin bisa dilakukan:
- Memahami pendapat , cara pertama ini mungkin yang lebih sabar dalam menghadapi perbedaan pendapat orang lain terlebih dahulu. pahami kata-katanya, ke mana arah bicaranya, dan mungkin kita kan tahu maksudnya
- Mempresentasikan pendapat kita, kalau kita sudah paham pendapat dia , kita utarakan pendapat kita secara gamblang beserta alasan-alasan kita.diusahakan sejelas mungkin.
- Menjawab sanggahan, hal ini mungkin sulit tapi dengan kita membicarakan sesuatu yang benar insya Allah itu akan bisa dilakukan dengan lancar.
- Bersabar,cara ini mungkin terakhir kalau pendapat kita kalah maupun menang, karena pendapat kita itu belum tentu baik untuk orang lain juga dan itulah yang dihadapi sebagian pemuda maka harus bersabar dengan tawakal pada Allah semoga pendapat yang kita terima ini adalah jalan terbaik yang diberikan olehNya.
- Discuss ,maaf mungkin belum terakhir, karena kalu pendapat kita sulit untuk mencapai tujuan kita diskusikan juga dampak-dampak atau bahkan kelemahan kita.
- Ambil hati, cara terakhir lah, harus kita lakukan yaitu mengambil hati orangtua kita. Tapi perlu diingat harus kita luruskan niat bukan untuk caper ya kan? kita lakukan yang terbaik untuk mereka, sehari-hari kita tujukan kepada mereka prestasi terkecil kepada mereka, dan kita bantu pekerjaan terkecil mereka seperti membuat minum dsb. Pokoknya yang terpenting mereka adalah yang masih mempunyai kita dan usahakan selalu jangan membuat mereka kecewa, OK!
-
Arsip
- Juni 2009 (2)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (2)
- Juni 2008 (2)
- Mei 2008 (11)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS