masih pantaskah untuk “tidur siang”?
jam 12.46 siang hari
“bangun..bangun…bro,,bangun..eh bangun..,udah saatnya nemuin Pak Heru nih, kita harus segera nemuin beliau,masalahnya sejam lagi dia mau terbang ke Jakarta, ada pertemuan pembantu dekan III se Indonesia. Kita belum dapat tandatangan beliau ni,kalo nggak sekarang bakal berabe proposal Tabligh akbar kita”,tanya sang kepala bidang Syiar kepada stafnya yang sedang tertidur pulas di mushola gedung kegiatan mahasiswa.
“..huuh,ganggu aja sih ente,ane kan seharian belum tidur siang nih, capek banget, tadi pagi syuro,terus habis itu kuliah,terus ketemu sama dosen pembimbing PKM ku,ni mau istirahat bentar,apalagi tambah belum ssarapan siang nih…ntar ya sejam lagi deh..” Jawab si Ardi staf Bidang syiar yang harusnya dapat tugas untuk minta tanda tangan Pak Heru untuk kegiatan tabligh akbar bidang mereka..
Wuzz Up..?/
Apakah dialog itu sering kita hadapi?di saat orang lain sedang membutuhkan bantuan kita,kita sedang enak enakan tidur siang, duh-duh, jangan dech..
Ingatlah kawan,begitu banyak yang harus dilakukan di dunia ini selama masih banyak kesempatan untuk berbuat baik, kadang egoisme itu senantiasa akan ada pada diri seseorang,memang begitulah manusia, kadang ingin memanjakan diri. Ya karena inilah kita punya kuasa penuh akan diri kita untuk mengistirahatkan tubuh kita ssejenak karena kelelahan dan memang harus diistirahatkan karena kalau tidak berarti kita bisa dikatakan orang yang terlalu memaksakan diri. Akan tetapi itu konteksnya istirahat,bukan tidur siang.
Pernah dengar hadits “tidurlah di siang hari,karena sesungguhnya setan tidak tidur di siang hari”, itu sanadnya Dhoif lho ternyata. Berarti belum ada hadits yang pas kan untuk mendukung tidur siang kita?
Hm,maaf, sekali lagi bukan bermaksud ingin jadi malaikat yang senantiasa terjaga, tetapi gini, kita yang sudah terlanjur bergabung dengan komunitas Dakwah alias jadi aktivis dakwah, ya kayaknya “nggak banget” dech kalo kita selalu enak-enakan tidur siang di saat yang lain saudara-saudara kita di Palestina diliputi rasa was-was karena setiap wilayah telah dikepung tentara Israel, terus yang lebih dekat, saudara-saudara kita selembaga yang sedang ngurus ini dan itu untuk kegiatan dakwah, apakah kita tidak stand by untuk membantu mereka?
Sekali lagi kesadaran akan peran kita di dalam aktivitas ini harus kita refleksikan kembali, karena segala macam kesibukan,masalah itu akan senantiasa menemati kita di jalan dakwah ini (^_^berat banget bahasanya),ingat juga kisah-kisah sahabat Nabi yang berani berkorban mati-matian untuk membela agama ini, bahkan ada yang mati beneran dengan predikat “syuhada”. Nah, begitulah kita seharusnya, ketika kita capek atau lelah ingatlah kisah-kisah sahabat nabi seperti Bilal bin Rabah, Umar,DeLeL. So pasti, kalaudah ngantuk di siang hari kita akan kembali melek karena ingat kisah-kisah tadi.
Waktu kita adalah pedang kita,dan Allah bahkan sudah bersumpah demi waktu bahwasanya kita akan menjadi orang yang paling merugi manakala kita tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
ayo semangat!!
jadilah pejuang di siang hari dan rahib di malam hari…
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- Maret 2011 (1)
- Januari 2011 (2)
- November 2010 (1)
- Juni 2009 (2)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (2)
- Juni 2008 (2)
- Mei 2008 (11)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS


