Sadam90′s Weblog

Just another WordPress.com weblog

antara facebook dan manusia produktif

Kecanggihan teknologi informasi khususnya internet telah membawa kemajuan yang sangat pesat di seluruh aspek kehidupan. Berapa banyak kawan lama yang kembali bersilaturahim berkat situs jejaring rekaan Mark Zuckerberg bernama Facebook. Berapa banyak bisnis berjalan mulus dan berkembang berkat distribusi dan jaringan melalui internet. Berapa pula banyak orang yang menjadi religius berkat siraman rohani dari berbagai situs dakwah yang bertebaran di dunia maya.

Namun dibalik manfaat kecanggihan internet itu tidak sedikit pula mudharat yang bakal menimpa penggunanya. Edward Richardson, pria asal London, Inggris tega membunuh mantan istrinya. Penyebabnya hal sepele, yakni setelah mengetahui kalau mantan istrinya tersebut telah mengubah status ’single’ di Facebooknya. Tidak sedikit juga pengguna internet menjadi tidak produktif karena waktunya habis terbuang hanya untuk memperhatikan perkembangan Facebooknya.

Jika Facebook dan produk internet lainnya telah melalaikan dan menurunkan produktivitas kita sebagai seorang muslim itu tandanya kita harus waspada. Islam –dengan ke-syumul-annya– menawarkan konsep “manusia produktif” kepada setiap orang sekaligus mengantarkan mereka menembus nilai-nilai ilahiyyah yang sering tertutup oleh tabir kegelapan jahiliyyah. Sekurang-kurangnya ada empat prinsip yang diutarakan sebagai konsep Islam dalam membina manusia menjadi muslim produktif, duniawi dan ukhrawi.

Yang pertama, mengubah paradigma hidup dan ibadah. Dalam Islam, hidup bukanlah menuju kematian, akan tetapi menuju kehidupan yang abadi. Hidup merupakan ladang yang akan dituai hasilnya di kehidupan abadi nanti. Sehingga hidup ini merupakan durasi penyeleksian manusia dari amalan-amalannya, dari produktivitasnya di pentas dunia. Mana di antara mereka yang tingkat produktivitasnya tinggi dan mana yang tidak. Allah swt berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51:56)

Apabila paradigma (cara pandang) terhadap Facebook dan produk internet lainnya sebagai sarana atau media yang memberikan kemudahan kepada kita untuk beribadah kepada Allah SWT maka peningkatan produktivitas kita akan mengalami lonjakan kenaikan yang tinggi karena media itu telah memberi banyak manfaat kepada kita, bukan menjadi sarana yang menjerumuskan kita kepada kesia-siaan, waktu yang terbuang dan berbagai kemudharatan lainnya.

Yang kedua, memelihara kunci produktivitas, yaitu hati. Rasulullah saw bersabda: “Ingatlah dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka akan baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, itu tidak lain adalah hati”.

Hati merupakan “ruh” bagi semua potensi yang kita miliki. Jika hati kita bersih pikiran dan tenaga tidak akan tercurahkan serta tersalurkan hanya untuk melihat foto-foto orang lain, atau membaca komentar-komentar orang lain di Facebook. Jika hati kita bersih kita juga tidak akan berbuat iseng kepada orang lain dengan mengambil gambar orang lain untuk keperluan yang tidak bermanfaat.

Hati yang terpelihara dan terlindungi akan memancarkan energi yang mendorong manusia untuk beramal lebih banyak dan lebih berkualitas lagi. Produktivitasnya akan terjaga bahkan akan terus bertambah sedikit demi sedikit. Dan tidak hanya itu, ‘amaliyah-nya (produktivitas) pun akan mempunyai nilai yang abadi. Nilai ini adalah nilai keikhlasan yang jauh dari kepentingan-kepentingan pribadi dan duniawi.

Yang ketiga, bergerak dari sekarang. Seorang sahabat pernah berkata: “Jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu nanti sore, dan jika engkau di sore hari maka janganlah menunggu waktu besok”. Prinsip “bergerak dari sekarang” ini menunjukkan suatu etos kerja yang tinggi dan hamasah (semangat) beramal yang menggebu-gebu. Seorang muslim sangatlah tidak pantas jika menunda-nunda suatu amal, karena waktu dalam pandangan Islam sangatlah mahal (oleh karena itu, dalam Al-Qur’an Allah swt banyak bersumpah dengan waktu), Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengatakan bahwa “waktu adalah kehidupan” .

Dari prinsip ini, akan terlahir sosok-sosok manusia ‘amali. Manusia yang senantiasa menghiasi waktunya dengan produktivitas tinggi akan menjauhi hal-hal yang akan mengantarkannya kepada suatu yang sia-sia dan tak berguna. Apalagi menyibukkan waktunya untuk chatting yang tidak bermanfaat sampai melalaikan waktu shalat. Sosok muslim yang ideal telah digambarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya, ia berkata: “Di antara tanda bagusnya Islam seseorang, ia senantiasa meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi dirinya”.

Yang keempat, kontinuitas dalam beramal. Dalam Islam, masa produktif ialah sepanjang hayat, selama ia masih menghirup kehidupan, maka ia dituntut untuk terus beramal dan menjaga produktivitasnya, walaupun amalan itu dilakukan sedikit demi sedikit.

Dengan prinsip kontinuitas ini, maka Islam dapat menjaga kestabilan produktivitas seorang muslim. Islam tidak membiarkan seorang muslim beramal “besar” kemudian setelah itu padam dan surut kembali. Dorongan kontinyu (dawam) dalam beramal dengan bentuk ahabul a’mali ilallah (yang paling disukai oleh Allah) merupakan dorongan terbesar bagi setiap muslim untuk senantiasa terus produktif dan menjaga produktivitasnya.

Seharusnya kita dapat menjadikan Facebook dan media internet lainnya sebagai sarana untuk menyebarkan fikrah Islamiyah yang bersih. Satu saja orang bisa tersentuh cahaya Allah melalui tangan kita tentu akan melapangkan jalan kita ke surga.

Dunia dan segala apa yang ada di dalamnya hanyalah sarana yang akan menghantarkan kita pada perjumpaan dengan yang Maha Pencipta. Jangan terlalu dicinta yang membuat waktu kita habis bersamanya. Amatlah merugi jika sarana itu justru menghantarkan kita kepada kehinaan di neraka jahanam. Sebagai seorang muslim kita memahami bahwa hidup ini hanya sekali. Hiasilah ia dengan sikap produktif, kreatif, inovatif dan prostatic. Semoga kita semua menjadi manusia yang beruntung. Amin…
(Yesi Elsandra) di download dari http://www.dakwatuna.com/2009/antara-facebook-dan-manusia-produktif/
25/6/2009 | 02 Rajab 1430 H

Juni 27, 2009 Posted by | opini | Tinggalkan sebuah Komentar

KCB,harapan baru perfilman Indonesia

5_pemeran_utama_kcb-20080916-002-wawanIndonesia kembali diwarnai lagi dunia hiburannya, tidak ada yang salah memang dengan dunia hiburan ini,tetapi yang terjadi kali ini adalah warna hiburan perfilman yang dibumbui nuansa religius dan edukatif, tidak hanya film-film yang bernafaskan percintaan dan remaja yang na’uzubillah ternyata semi porno.

Itulah Ketika Cinta Bertasbih, film garapan Chaerul Umam dan dengan mengambil cerita dari Novel Mega bestseller karangan Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik). Film yang baru diputar beberapa hari yang lalu itu benar-benar memberikan atmosfer yang berbeda dari sisi sasaran perfilman itu sendiri, saya katakan sasaran karena memang banyak dari peminat atau penonton KCB ini adalah remaja muslim, yang mana memang mungkin itu yang diharapkan dari pembuat film ini,yaitu mengembalikan isi dari film ini kepada dakwah Islam, dan kalau menurut saya jika memang yang banyak menonton itu adalah remaja muslim, maka film itu bisa menjadi penjagaan diri bagi para remaja muslim untuk memiliki hiburan tersendiri yang dekat dengan nilai-nilai Islam dan jauh dari kemaksiatan.

Cara berpikir saya ini mungkin sependapat dengan banyak orang tua yang selama ini resah, akan anak remaja mereka yang sudah tidak memiliki tameng hidup berupa nili-nilai dan prinsip hidup Islami, yang bisa membawa mereka ke jalan yang benar.

meskipun dulu sudah banyak film layar lebar yang bernafaskan religi seperti ayat-ayat cinta, perempuan berkalung surban, kun fayakun,kiamat sudah dekat, dll. Namun, KCB saya rasa mempunyai nilai plus tersendiri, bisa dilihat dari proses recruitmen pemainnya, yang cukup ketat, melibatkan masyarakat umum di daerah-daerah dan perkotaan, kebanyakan memang dari aktivis muslim dan artis pun juga banyak, buktinya ketika tahap 36 besar ada nama Dude Herlino, Zaskia Adyameca, AllYsa Subandono,Alice Noorin,dll. Tetapi yang menjadi bintang utama ternyata hanya Alice Norin, dan itu menujukkan bahwa proses seleksinya tidak main-main karena banyak mengambil orang-orang barubahkan dari daerah-daerah seperti Meyda Safira yang berasal dari Bandung, A.arsyil Rahman yang berasal dari Makasar, dan kita dapat melihat akting mereka dalam film ini yang tidak kalah dengan para senior itu. harapanya proses seleksi seperti ini perlu dicontoh oleh banyak produser film agar tidak sekedar mendepatkan bintang yang sudah ada, dan juga menjadi pelajaran bagi para selebritis agar mereka mengakui kehebatan film yang akan mempunyai tujuan mulia dan edukatif. Kehadiran aktor-aktor yang senior menambah film ini menjadi memiliki kualitas tersendiri, bisa jadi aktor-aktor kawakan seperti didi Petet, dan El Manik juga memberikan pengarahan pada bintang-bintang baru tadi dan bisa menambah kesuksesan film ini.

mengenai isi film, memang tidak sesempurna novelnya, ya karena mungkin juga terbatasnya waktu putar, tetapi agaknya cukup terbantu dengan menghadirkan adegan-adegan yang memang pantas untuk disampaikan, ya walaupun tidak menutup kemungkinan para pembaca novel seperti saya yang mungkin merasa tidak sempurna mendapatkan kemanjaan di film ini.

kehadiran KCB yang dinanti-nantikan umat ini memang tidak lepas dari beberapa kekhawatiran kita sebagai insan cendekiawan. Benar saja ketiak mereka menjadi bintang film saat ini mereka begitu terkenal, ya tetapi bisa jadi suatu saat nanti mereka terlupakan oleh masyarakat karena kehadiran bintang baru dalam dunia entertain itu sangatlah cepat, bisa dilihat di beberapa stasiun televisi yang sering kali mengadakan pencarian bintang baru dengan berbagai macam tipe. Juga, kaena mereka terkenal itulah dikhawatirkan mereka juga akan berperilaku glamour layaknya seorang artis dan selebritis yang kita tahun tidak hanya glamaour saja yang diperontonkan dari dunia entertain, tetapi juga kehidupan mereka pun terasa akan vulgar dengan berbagai macam pemberitaan bisa jadi positif dan bisa juga negatif.

perlu adanya penjagaan dan antisipasi sejak dini,mengingat bintang-bintang baru KCB ini adalah kebanyakan berbackground insan akademis dan aktivis muslim yang tidak sepatutnya bersikap berlebihan seperti di atas. Terlepas dari semua kekhawatiran di atas, maka kita harus senantiasa mendukung adanya gerakan Islamisasi melalui berbagai bidang termasuk melelui bidang entertainment ini.5_pemeran_utama_kcb-20080916-002-wawan

Juni 16, 2009 Posted by | opini | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.