Life Style, kebutuhan atau aktualisasi diri?
Perubahan zaman semakin lengkap karena diimbangi dengan perubahan gaya hidup/life style. Tetapi tak ada yang memperhatikan bagaimana menunjukkan life style itu sebagai gaya hidup atau kebutuhan. Kalau dalam ilmu ekonomi tentu ada yang namanya berbagai macam kebutuhan, ada kebutuhan pokok,itu meliputi hal-hal yang paling pokok dalam hidup kita, seperti makan, minum, tempat tinggal,dan tentu pakaian, sebagai penutup tubuh kita. Kemudian ada kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan kedua setelah kebutuhan pertama terpenuhi, seperti pendidikan, kesehatan, dll. Ada juga kebutuhan tersier yang kata orang-orang merupakan kebutuhan yang kurang begitu penting dan bersifat barang-barang yang mewah.
Nah, untukl lifestyle sendiri itu masuk ke kebutuhan yang mana? Life style sendiri aku artikan sebagai gaya hidup yang bisa membuat kita terlihat lebih memiliki keunikan dan kelebihan yang berbeda dengan orang lain. Tetapi menurt sebagian besar orang-orang, life style itu layaknya sebuah tuntutan hidup untuk memenuhi hasrat pelengkap diri, yang tentunya kalau kita lihat lebih ke arah materi seperti kalau musimnya laptop ya sebisa mungkin untuk memilikinya, dan kalau bisa yang lebih bagus dan model yang sedang in, dengan begitu mereka akan bangga dengan memilikinya, pun tidak melupakan fungsi aslinya.
kembali ke kebutuhan tadi, bahwa sifat manusia itu dalam teori ekonomi memaang tidak mudah puas dan selalu ingin mengejar yang lebih baik. Untuk itu sebenarnya kalau dipikir-pikir life style dalam hidup kita itu memang boleh-boleh saja, sepanjang itu tidak menimbulkan kerugian dan pemenuhan life style berupa materi itu tidak bertujuan untuk meniru-niru orang lain, tetapi lebih ke aktualisasi diri positif.
Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’an, yang Insya Allah bunyinya seperti iini “barang siapa bersyukur maka akan Kutambah nikmat kepadanya, dan barangsiapa yang kufur maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.
Nah untuk itu sebagai insan yang berideologi Islam tak selayaknya kita untuk terus-terusan meniru-niru gaya orang lain, kalau untuk mencitrakan diri sih boleh-boleh saja, tapi kalau untuk ikut-ikutan model dan bahkan tidak syar’i, itu gaawaat. Karena sekali lagi kita harus ingat bahwa kita itu muslim dan kita sebaik-baik umat kan? dan yang jelas kita lebih gaul kalu kita mau mengkaji Islam secara lebih mendalam.
& Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Juni 2009 (2)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (2)
- Juni 2008 (2)
- Mei 2008 (11)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
Lifestyle itu juga secara tidak langsung membolak-balikkan teori kebutuhannya Abraham Maslow,, bener tidak??
Komentar oleh Zulfi | September 15, 2008
ada yang lebih penting dari cuma memperhatikan lifestyle.
kalo ndak perlu yha ndak usah dipaksakan!
apa kabar?
Komentar oleh Maey Moon | Oktober 29, 2008