Sadam90’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Life Style, kebutuhan atau aktualisasi diri?

Perubahan zaman semakin lengkap karena diimbangi dengan perubahan gaya hidup/life style. Tetapi tak ada yang memperhatikan bagaimana menunjukkan life style itu sebagai gaya hidup atau kebutuhan. Kalau dalam ilmu ekonomi tentu ada yang namanya berbagai macam kebutuhan, ada kebutuhan pokok,itu meliputi hal-hal yang paling pokok dalam hidup kita, seperti makan, minum, tempat tinggal,dan tentu pakaian, sebagai penutup tubuh kita. Kemudian ada kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan kedua setelah kebutuhan pertama terpenuhi, seperti pendidikan, kesehatan, dll. Ada juga kebutuhan tersier yang kata orang-orang merupakan kebutuhan yang kurang begitu penting dan bersifat barang-barang yang mewah.

Nah, untukl lifestyle sendiri itu masuk ke kebutuhan yang mana? Life style sendiri aku artikan sebagai gaya hidup yang bisa membuat kita terlihat lebih memiliki keunikan dan kelebihan yang berbeda dengan orang lain. Tetapi menurt sebagian besar orang-orang, life style itu layaknya sebuah tuntutan hidup untuk memenuhi hasrat pelengkap diri, yang tentunya kalau kita lihat lebih ke arah materi seperti kalau musimnya laptop ya sebisa mungkin untuk memilikinya, dan kalau bisa yang lebih bagus dan model yang sedang in, dengan begitu mereka akan bangga dengan memilikinya, pun tidak melupakan fungsi  aslinya.

kembali ke kebutuhan tadi, bahwa sifat manusia itu dalam teori ekonomi memaang tidak mudah puas dan selalu ingin mengejar yang lebih baik. Untuk itu sebenarnya kalau dipikir-pikir life style dalam hidup kita itu memang boleh-boleh saja, sepanjang itu tidak menimbulkan kerugian dan pemenuhan life style berupa materi itu tidak bertujuan untuk meniru-niru orang lain, tetapi lebih ke aktualisasi diri positif.

Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’an, yang Insya Allah bunyinya seperti iini “barang siapa bersyukur maka akan Kutambah nikmat kepadanya, dan barangsiapa yang kufur maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.

Nah untuk itu sebagai insan yang berideologi Islam tak selayaknya kita untuk terus-terusan meniru-niru gaya orang lain, kalau untuk mencitrakan diri sih boleh-boleh saja, tapi kalau untuk ikut-ikutan model dan bahkan tidak syar’i, itu gaawaat. Karena sekali lagi kita harus ingat bahwa kita itu muslim dan kita sebaik-baik umat kan? dan yang jelas kita lebih gaul kalu kita mau mengkaji Islam secara lebih mendalam.

September 10, 2008 Ditulis oleh muhammad syukron | opini | | 2 Tanggapan

1 Ramadhan 1429 H

Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, tapi suara rintihan tangisan bayi yang merindukan asupan gizi dari ibunya sudah mulai terdengar, ya itulah Sulthan keponakanku, buah hati pertama kakakku. Suaranya tidak begitu keras seperti biasanya tetapi bisa membangunkan orang yang sudah terlelap, walaupun terhalang dinding antara kamarku dan kamar bayi itu. Sekilas aku memutar ingatanku dan ternyata hari ini awal bulan ramadhan dan sekaligus awal makan sahur di bulan ini. Karena masih sekitar i jam lagi lalu aku balikkan badanku untuk meneruskan tidurku.

Tiba-tiba saja mataku terbuka lagi dan ternyata jam dinding itu masih menunjukkan pukul 03.00, sebenarnya juga bisa untuk makan sahur tetapi karena makan sahur belum disiapkan dan lebih afdhol kalau mengakhirkan waktu sahur nanti sekitar pukul 03.45 wib. Lalu aku memejamkan mataku lagi sambil berharap makan sahur sudah disiapkan.

Pukul 03.30 WIB dan benar harumnya hidangan sahur sudah kucium sebelum aku membuka mataku. Lalu suara kakakku memanggil semuanya untuk makan sahur, memang Ramadhan kali ini aku tinggal bersama keluargaku supaya aku bisa termotivasi untuk rajin beribadah. Setelah aku mencuci muka dan minum air putih, akhirnya kami berdoa untuk memulai makan.

Belum sempat sendok mengambil sayur, tiba-tiba terdengar bunyi panggilan telepon dari handphone kakakku, langsung kakakku mengambil HPnya dan mengangkatnya seraya mengucapkan salam,”assalamu’alaikum” kata kakaku, tidak terdengar suara si penelepon karena tidak di loudspeaker dengan aktif, tiba-tiba mas Eko (kakakku penerima telepon-pen) terdiam beberapa saat, tak lama kemudian mas Eko berkata “mbah putri meninggal”. Dek, sepintas bayanganku melintas ke sesosok wanita tua yang dulu, ketika aku masih SMA selalu memintaku untuk mengantarkannya kontrol ke dokter, lalu kuucapkan secara reflek “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Dan aku heran kenapa aku tak langsung menangis padahal dia nenekku satu-satunya, karena nenekku yang dari ayahku sudah meninggaal waktu aku masih SMP.

Aku berpikir lagi kenapa semua begitu cepat, aku membayangkan sesosok wajahnya yang memang sudah tua selalu memikirkan anak-anaknya, cucu-cucunya dan bahkan buyutnya yang sekarang ada di dekapan kakakku. Ya, mungkin memang inilah jalan yang diberikan Allah untuknya ,ketika waktu sakaratul maut pun tak ada seorang pun yang mengetahuinya termasuk kakekku yang waktu itu tidur sekamar dengan nenekku. Ya Allah aku hanya berharap kepadamu di akhir hayatnya ini kKau begitu mempermudah waktu pulangnya, dan aku berharap jadikan ini akhir yang baik (khusnul khotimah ) baginya.

Akhirnya awal bulan Ramadhan ini menjadi awal berduka bagi keluargaku, tapi aku berharap semoga ini menjadi hikmah bagi aku dan keluargaku, bahwa maut bisa datang kapan saja dan mengenai siapa saja. Semoga kami sekeluarga semakin khusyuk di bulan yang suci ini.

September 3, 2008 Ditulis oleh muhammad syukron | cerita ramadhan | | 1 Tanggapan