Harusnya Ibu-ibu rumah tangga membeli LPG sebelum 1 juli
9 07 2008Memang benar bahwa ibu-ibu rumah tangga harus membeli LPG sebelum 1 Juli kemarin, pasalnya tertanggal 1 Juli kemarin PT.Pertamina sudah menaikkan harga LPG ukuran 12 kg dengan harga sekitar Rp.60.000,00. Harga tersebut adalah harga pembulatan dari kenaikan sekian persen. Harga sebesar itu kalau dibandingkan dengan harga sepatu anak mungkin jauh lebih sedikit, tetapi bila melihat aspek yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari harga sebesar itu , terutama untuk masyarakat menengah ke bawah sangat membebani. Walaupun masyarakat (maaf) miskin cenderung tidak menggunakan LPG untuk memasak kebutuhan sehari-hari, tetapi kalu kita pikir-pikir mereka juga secara tidak langsung bisa terkena dampaknya.
Seorang ibu rumah tangga yang hemat mungkin bisa menggunakan Lpg seperlunya, tetapi kebutuhan tidak selamanya bisa di hemat ,kadang-kadang orang kan juga mempunyai kebutuhan yang tak terkira seperti juga hajatan.
Dalam dialog interaktif yang di On Air-kan di radio MQ Fm Jogja, tanggal 3 Juli kemarin, bahwa salah satu pengamat Ekonomi dari UGM, bapak Sony mengatakan bahwa Pertamina telah melakukan pelanggaran konstitusi, pasalnya pelaksanaan kebijakan yang bersifat umum dan nasional seperti itu harusnya tidak dilaksanakan oleh satu pihak saja melainkan juga harus menggunakan keputusan bersama, dalam hal ini Pertamina melakukan kebijakan sendiri dengan dalih mengikuti harga minyak dunia dan harga BBM yang sudah naik.
Dari pendapat tersebut ada ibu-ibu yang mengikuti dialog interaktif dan juga ikut berpendapat,”…Di satu sisi kebijakan menaikkan harga-harga kebutuhan pokok itu menyebabkan banyak pihak untuk bertindak kreatif, sepertio mencoba mencari energi alternatif yang punya manfaat sama seperti kompor gas, yang baru-baru ini adalah penggunaan kotoran manusia untuk diolah menjadi gas, menanggapi kebijakan pemerintah yang berulang-ulang semakin tidak berpihak pada rakyat, saya berpikir bahwa terserah lah pemerintah mau menaikkan harga apalagi!saya sudah tidak peduli lagi…” Dari kutipan opini ibu-ibu tersebut ternyata dapat disimpulkan bahwa sikap apatis dari masyarakat terhadap pemerintah sudah mulai muncul, mereka sudah tidak peduli lagi dengan kebijakan pemerintah yang dinilai memberatkan rakyat tersebut. Dan itu bisa saja membuat rakyat jadi tidak simpati lagi dengan masalah pemerintah lagi, bahkan masyarakat bisa menduga-duga kebijakan apalagi yang akan membuat rakyat semakin menderita.
Mengenai hal itu dari Pertamina sendiri tentu punya pembelaan internal yang menghubung-hubungkan dengan naiknya harga BBM, tetapi kenyataannya terhitung tahun 2007 bahwa anggaran Pertamina itu selalu surplus, dan mengapa masih membuat kebijakan seperti itu? Berarti benar bahwa pertamina itu melanggar konstitusi dengan melanggar pasal yang berbunyi,”bumi ,air, dan kekayaan alam di dalamnya adalah milik negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat”. Jelas sekali bahwa pasal itu telah dilanggar, dan kalau kita amati saat ini rakyat juga belum begitu sejahtera, tetapi celana anggota DPR makin tidak muat, ironisnya Indonesia.
Komentar : Tidak ada komentar »
Kategori : opini






Komentar Terakhir